Demang Lehman adalah salah satu pahlawan nasional
Indonesia yang berasal dari Kesultanan Banjar.
Ia dikenal sebagai panglima perang yang berani dan cerdik dalam melawan penjajah Belanda pada abad ke-19. Namun, nasibnya berakhir tragis di tangan musuh yang menghukumnya dengan cara yang kejam. Kepalanya dipenggal dan disimpan di museum Belanda hingga kini.
Siapa Sebenarnya Sosok Demang Lehman Dan Bagaimana Kisah Perjuangannya?
Demang Lehman lahir dengan nama Idies pada tahun 1832
di Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Ia berasal dari keluarga
sederhana yang berprofesi sebagai petani.
Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakat kepemimpinan
dan keberanian. Ia sering terlibat dalam pertempuran antara suku-suku di
Kalimantan.
Pada tahun 1859, terjadi perang besar antara
Kesultanan Banjar dan Belanda. Perang ini dipicu oleh campur tangan Belanda
dalam urusan pergantian takhta di Banjar.
Belanda mendukung Sultan Tamjid, yang dianggap
sebagai boneka mereka, dan menentang Pangeran Hidayatullah, yang merupakan
pewaris sah takhta dan didukung oleh rakyat.
Pangeran Hidayatullah kemudian memimpin perlawanan
bersama Pangeran Antasari, pahlawan besar Banjar, dan sejumlah bangsawan dan
ulama.
Demang Lehman menjadi salah satu pengikut setia
Pangeran Hidayatullah. Ia diberi gelar "Kiai Demang" karena menjadi
pejabat pengendali Lalawangan (distrik) Kesultanan Banjar.
Ia juga dipercaya sebagai panglima perang yang
bertanggung jawab atas wilayah Martapura, Matraman, Tanah Laut, dan Pengaron.
Perjuangan
Demang Lehman terlibat dalam berbagai pertempuran
melawan Belanda, baik bersama Pangeran Antasari maupun Pangeran Hidayatullah.
Ia menggunakan strategi gerilya yang cepat dan tepat,
sehingga sering merepotkan pertahanan musuh.
Kemudian juga mampu mengumpulkan massa dan
membangkitkan semangat juang rakyat.
Salah satu pertempuran yang paling terkenal adalah
penyerbuan ke Istana Bumi Selamat, yang saat itu diduduki oleh Belanda.
Pada tanggal 30 Agustus 1859, Demang Lehman mengerahkan 3.000 pasukan untuk menyerang istana tersebut. Dalam pertempuran itu, Letnan Kolonel Boon Ostade, komandan pasukan Belanda, hampir terbunuh.
Selain itu, Demang Lehman juga berhasil merebut
benteng Belanda di Tabaniau, bersama Haji Bajasin dan Kiai Langlang, pada bulan
September 1859. Namun, benteng itu tidak bertahan lama karena Belanda segera
mengirim bala bantuan untuk merebutnya kembali.
Demang Lehman juga bergerilya di sekitar benteng
Gunung Lawak, yang akhirnya ditinggalkan oleh Belanda karena tidak kuat menahan
serangan-serangannya.
Akhir Hayat
Perjuangan Demang Lehman tidak berlangsung mulus. Ia
mengalami beberapa kekalahan dan kehilangan banyak pasukan.
Ia juga harus berpisah dengan Pangeran Hidayatullah,
yang ditangkap oleh Belanda pada tahun 1860.
Demang Lehman terus berjuang hingga tahun 1862,
ketika ia tertangkap oleh Belanda di daerah Rantau Bujur. Demang Lehman
kemudian dibawa ke Martapura, tempat ia diadili oleh pengadilan militer
Belanda. Ia dituduh sebagai pemberontak dan penghasut. Ia tidak mengakui kesalahannya
dan tetap bersikap tegar, juga menolak untuk bekerja sama dengan Belanda.
Pada tanggal 27 Februari 1864, Demang Lehman dihukum gantung di alun-alun kota Banjar. Setelah ia meninggal, kepalanya dipenggal oleh Belanda, dan disimpan untuk memberi kesan bahwa hukuman berat bagi para pejuang adalah kematian.
Konon, hingga saat ini, kepala Demang Lehman masih
disimpan di Museum Leiden, Belanda. Maka, prosesi pemakamannya pun kala itu
dilakukan tanpa kepala.
Warisan
Demang Lehman adalah salah satu pahlawan yang tidak bisa diabaikan dalam sejarah perjuangan rakyat Banjar. Ia menjadi simbol keberanian, kesetiaan, dan kecerdikan dalam menghadapi penjajah. Kemudian juga menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya untuk terus berjuang demi kemerdekaan dan keadilan.
Demang Lehman diakui sebagai pahlawan nasional
Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 106 Tahun 1973.
Nama Demang Lehman juga diabadikan sebagai nama
jalan, sekolah, dan monumen di Kalimantan Selatan. Selain itu, ada juga upaya
untuk memulangkan kepala Demang Lehman dari Belanda, sebagai bentuk
penghormatan dan pengakuan atas jasa-jasanya.
Demikianlah kisah Demang Lehman, pahlawan Banjar yang kepala konon masih disimpan Belanda hingga kini.

Komentar
Posting Komentar